Istirahat Oktober Perjalanan Dengan Misi Tips Trip Singapore

Istirahat Oktober : Perjalanan Dengan Misi (Tips Trip Singapore
Tulisan diawal oktober kemarin ditulis dengan perasaan yang membara, yang sebenarnya ada yang belum saya tuliskan di sana karena berniat akan menuliskannya dalam judul sendiri seperti ini. Tiga hari setelah saya menulis tulisan “Assalammualaikum Oktober!” saya akan pergi ke Singapore dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Malaysia, berniat untuk bertemu dengan beberapa orang selama satu minggu perjalanan. Bukan tempatnya yang membuat saya membara sebegitunya, tapi ini untuk pertama kalinya saya akan pergi dengan sebuah misi : Bertemu banyak orang dan high quality time sama mereka. Yap, saya mau quality time sama orang-orang karena sadar betul kita sama-sama udah gak punya banyak waktu buat amount time sekarang ini. Itu kenapa saya gak mikir panjang untuk melakukan perjalanan kali ini, karena belum tentu suatu saat nanti saya punya kesempatan yang sama buat punya pengalaman perjalanan di negara orang bareng stranger, anak kecil yang biasanya cuma saya temuin di rumahnya, teman-teman yang biasanya saya temuin di kampus dan teman sebangku waktu SMA.

* Hari ke-1 dan 2 : Keliling Singapore Bersama Audy, Listi dan Aufa

Bagi saya perjalanan dengan orang yang berbeda selalu akhirnya memberikan cerita yang berbeda meski tempat yang kita kunjungi adalah tempat yang sama. Setelah tepat hampir satu tahun yang lalu saya melakukan perjalanan yang sama kedua negara ini dengan dua sahabat saya dari SMP, sekarang saya melakukan perjalanan ini diawali dengan teman SMP juga, tapi teman SMP-nya orang alias teman SMP Hanun dan Audy, mereka berduapun awalnya adalah orang asing yang baru awal tahun saya kenal tapi sekarang hampir saya temui setiap minggunya bahkan saya hampir setiap hari bertemu dengan Audy karena sekarang jadi penghuni #cabeworkartspace juga, mereka adalah sahabat baru yang saya dapatkan berkat STIFIn. Karena mereka berdua akhirnya saya kenal dengan Listi dan Aufa (dua sahabat SMP mereka), walaupun sebenarnya saya dan Aufa satu fakultas tapi berbeda jurusan di kampus sehingga kami jarang ngobrol sebelumnya. Pertemuan pertama kami juga di Bandara Soekarno Hatta, sebelumnya kami cuma saling add lewat whatsapp masing-masing dan ngobrol sedikit di grup. Bisa dibilang pada perjalanan ini dengan Audy, Listi dan Aufa saya berperan sebagai tour information, karena kebetulan saya yang pernah mengunjungi negara ini sebelumnya. Mulai dari bantuin ngasih saran tempat-tempat yang mereka bisa kunjungi, ngajarin naik MRT dan jawab-jawab pertanyaan mereka seputar persiapan perjalanan. Sejujurnya ini pertama kalinya saya sok-sokan jadi information orang setelah sebelumnya cuma ngikutin panduan Bundo waktu perjalanan Singapore-Malaysia tahun lalu dan waktu ke Jepang Jare udah jago baca google maps jadi saya cuma bagian hore-hore aja ngikutin dari belakang, bahkan itinerary udah rapih dibuatin Jare. Tapi ternyata tidak buruk juga untuk pertama kalinya jadi information kayak gini, bahkan jadi nagih karena saya jadi tahu lebih banyak karena mau gak mau harus banyak nyari tahu.

Saya memilih menggunakan ezlink, beli di bandara Stasiun MRT Changi seharga 17 USD (7 USD saldo dan 5 USD deposit), karena saya akan menggunakan kartu ini lebih dari 3 hari. Tapi buat teman-teman yang sekiranya hanya 3 hari di Singapore bisa membeli Singapore Tourist Pass, harganya sekitar 32 greenback, tapi kalian bisa bebas menggunakannya kemana saja selama three hari.

Selama dua hari pertama di Singapore saya menemani mereka untuk keliling-keliling, tempat kunjungan pertama kami Haji Lane Street dan berkeliling di sekitaran penginapan kita yang dekat dengan Masjid Sultan ini dan sebelum melanjutkan perjalnan kami mampir di tempat makan bernama Kampung Glam, lalu melanjutkan berjalan-jalan di sekitar Gardens by the Bay sambil menikmati Helix Bridge dan Singapore Flyer di malam hari sebelum kembali ke penginapan kami, Shophouse di Arab Street.

Penginapan kami ini cukup terjangkau, hanya sekitar a hundred and twenty.000 perorang untuk satu malamnya dan tentu saja bisa di booking lewat traveloka. Bentuknya seperti kamar-kamar di asrama dengan isi eight orang perkamar, terdapat three kamar mandi diluar dan dilengkapi dengan setrikaan yang bisa digunakan oleh mereka yang menginap, antara laki-laki dan perempuan dipisahkan melalui lantai yang berbeda, jadi perempuan di lantai three dan laki-laki di lantai 2. Walaupun seperti hostel pada umumnya yang pencahayaannya cenderung remang-remang hampir ke gelap, kasur dihostel ini rapih disertai dengan sprei yang bersih, sehingga cukup nyaman buat kami yang memilih penginapan dengan harga terjangkau. Letak Shophouse sendiri ada diujung jalan Arab Street, terletak di sebelah kiri jalan dari arah Masjid Sultan dan dibawahnya terdapat cafe yang cukup ramai pengunjung. Untuk ke Haji Lane Street yang bisa dibilang record wajibnya pelancong yang pertama kali ke Singapore, kami hanya perlu berjalan kesana 3 menit saking dekatnya, jadi penginapan ini cukup really helpful ditambah resepsionisnya yang orang Indonesia jadi bisa ditanya-tanya. Jangan lupa untuk menyimpan alamat penginapan kalian dengan alamat yang lengkap, atau lebih baik save dulu penginapannya di google maps dengan beri *favorit*.

Hari kedua di Singapore, kami berempat jalan-jalan dari pagi sampai siang di Sentosa Island, lalu belanja di Mustafa Center dan berencana makan malam di Bugis Street. Sore harinya tiga teman kuliah saya datang dan menginap di tempat yang berbeda, karena saya akan ikut menginap dengan mereka jadi saya sudah mempersiapkan barang dan take a look at sebelum kami berangkat ke Sentosa. Pulang dari belanja oleh-oleh, saya berpisah dengan Audy, Listi dan Aufa sebelum mereka berangkat makan malam. Mereka bertiga pergi ke Bugis Street dan saya menuju Nice Hotel Balestier. Perjalanan sendiri dimulai, dari stasiun Bugis menuju Novena dan dilanjutin naik bis nomer 131 di sebrang Novena Squere untuk sampai didepan resort. Itu pertama kalinya saya naik mrt dan bis sendirian di negara orang, jadi itu pencapaian yang harus diingat-ingat.

* Hari ke-3 dan four : Hallowen Night dan Jalan-jalan di Singapore bersama Karbala, Dinda dan Mutia

Niat journey dengan Karbala, Dinda dan Mutia sudah lama kami rencanakan, dari mulai mau ke tempat A, tempat B dan terlaksananya malah ke tempat C. Biasanya kami hanya menghabiskan waktu di Jatinanor, bahkan waktu masih jadi mahasiswa aja kami terhitung jarang pergi ke Bandung bersama, ketemu di Jakarta juga gak sering-sering banget karena sama-sama udah sibuk sendiri. Buat saya, perjalanan dengan teman-teman dekat itu juga seru sensasinya, selain jadi makin kenal sama teman dekat kita, journey bareng juga menguji iman kita, kuat atau enggak ini temanannya apa cuma sok-sokan temanan doang eh journey sekali langsung goyang.

Tujuan utama kami berempat (Cabe, Karbala, Dinda dan Mutia) di perjalanan kali ini adalah Hallowen Night di Universal Studio Singapore yang cuma ada di bulan oktober. Acaranya dimulai pukul 19.30 malam sampai 1.30 pagi. Seperti judulnya, Universal Studio Singapore diubah jadi sarang hantu yang temanya beberapa diambil dari serial di netflix. Buat kalian yang penakut sebenarnya ini agak kurang beneficial, karena acara ini emang serba hantu dan wahana yang dibukapun wahana untuk orang dewasa, jadi bye kegemasan Universal Studio. Selesai dari Universal Studio kami langsung pulang ke lodge menggunakan taksi karena waktu sudah menunjukan pukul 2.00 pagi (kalo udah jam segini insyaAllah gak bakal macet jadi naik taksipun masih cukup terjangkau walaupun jaraknya lumayan, tapi kalo pagi sampai malam selama masih ada angkutan umum lebih baik naik umum aja ya menghindari kebocoran pada kantong).

Setelah menghabiskan waktu di Universal Studio malam harinya, kami melanjutkan perjalanan kami di Singapore dengan makan siang bersama Abe San ditempat yang sudah beliau pilihkan, kebetulan Abe San ini adalah teman Ayah Dinda yang bekerja di Singapore. Lewat makan siang itu saya juga belajar banyak tentang menghargai orang lain, dengan beliau datang tepat waktu dan menyambut kami dengan hangat.

foto didepan singapore art museum dengan karbala

* Hari ke-5 : Ke Malaysia Sendirian Naik Bis! + Nyamperin Audy, Listi, Aufa dan Hanun di Malaysia

Saya mengantarkan ketiga teman saya ke Bandara Changi lalu melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Tahun lalu saya naik bis dari queen road lalu menyambung menggunakan kereta dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur dengan transit 4 jam di Stasiun Gemas. Kali ini saya mencoba dengan jalur lain ke Malaysia menggunakan bis tanpa menyambung kereta, bedanya ini pertama kalinya juga udah saya berpergian dari satu negara ke negara lain, walaupun jarak antar negaranya tidak jauh tapi ternyata tetap ya sensasinya beda dan bikin nagih. Saya memutuskan untuk naik bis dari Golden Miles Singapore, naik bis ini seharga 18 dollar dan langsung turun di Berjaya Times Square (BTS) Malaysia. Waktu yang dibutuhkan jauh lebih singkat dibandingkan waktu saya menggunaan kereta, hanya sekitar 6 jam saya sudah sampai di BTS. Saya berangkat sekitar pukul 10.30 dan melewati dua imigrasi dengan waktu yang lagi-lagi jauh lebih singkat dibandingkan pengalaman saya tahun lalu, mungkin karena saya juga pergi ke Malaysia bukan saat weekend (Untuk kalian yang merencakan pergi ke Malaysia dari Singapore, akan lebih baik menghindari perjalanan saat weekend karena antrian imigrasi akan sangat panjang bahkan bisa menghabiskan waktu three jam karena banyak orang yang bekerja di singapore yang pulang ke malaysia).

Sampai di Berjaya Times Square, saya langsung menuju konter yang ada didekat pintu masuk. Harga kartu baru disana sekitar forty ringgit dan bisa langsung diaktifkan oleh penjaga konternya (lebih baik sudah mempunyai mata uang negara yang akan dikunjungi karena kalo nanti dadakan harus beli kartu kayak saya gini, sulit mencari cash changer kalo bukan di tempat wisata). Buat kalian yang suka cari baju-baju murah dan bagus, ada salah satu toko di Berjaya Times Square yang harganya murah-murah dan bagus-bagus, namanya M&B. Baju-bajunya berkisar antara ringgit. Apalagi buat kalian yang suka baju kurung yang Malaysia banget, M&B salah satu toko di Berjaya yang harus dikunjungin.

Selesai ganti kartu, saya langsung menuju penginapan Audy, Listi, Aufa dan Hanun yang sebelumnya sudah sampai terlebih dahulu di Malaysia. Hotel mereka namanya Hotel33, letaknya dekat sekali dengan Pavillion, harganya terjangkau dan dibawah hotolenya terdapat tempat makan yang harganya murah-murah jadi gak perlu pusing untuk cari makan selama menginap disana, disana saya makan nasi lemak cuma three ringgit sekitar Rp 10.000-an.

* Hari ke-6 : Main Bersama Zahid dan Zahidah, Lalu Menghabiskan Waktu di Pavillion Bareng Hanun

Setelah take a look at dari hotel33 kami naik Grab menuju apartement kakaknya Hanun di Pantai Dalam, sekitar 24 ringgit tarifnya dari Pavillion. Untuk menggunakan Grab di Malaysia kita gak perlu masukin login pake nomer malaysia, karena aplikasi tersebut bisa langsung digunakan, dan untuk komunikasinya bisa pake bahasa inggris karena drivernya pasti ngerti kalo kita turis waktu ngeliat nomer hpnya. Setelah meletakan barang di apartement, saya bersama Hanun, Kak Hamas (kakaknya Hanun), Zahid dan Zahidah menuju Berjaya Times Square dan Pavillion untuk beli oleh-oleh untuk keluarga dan saudara Hanun, karena kakaknya akan pindah ke Indonesia setelah menetap di Malaysia. Setelah berkeliling saya dan Hanun berpisah karena ingin mencari koper, kebetulan buat kalian yang suka touring bawa koper kecil kayak saya, PRnya adalah kalo ternyata waktu pulang kopernya gak cukup dan mau gak mau harus cari koper lagi, ternyata di Parkson – Fahrenheit88 ada koper bagus-bagus dan murah-murah. Saya pilih koper yang gede banget asli karena kebetulan saya belum punya koper seukuran itu di rumah dan yang bikin saya nafsu beli karena harganya cuma 99 ringgit, best purchase bangetloh! Di Indonesia aja belom tentu dapet dengan harga segitu dan kualitas yang oke. Parkson di sini juga harga tas-tasnya murah-murah banget buat kalian yang berniat cari tas bagus dan murah di Malaysia, cuma sekitar ringgit loh padahal branded.

Pulang dari Fahrenheit88, saya dan Hanun pergi menggunakan Grab ke apartement kakaknya Hanun. Tidak lama setelah sampai saya langsung bersiap untuk pergi ke apartement Rezka di Selangor.

* Hari ke-7 : Winter at Genting with Rezka + Makan Duren di SS2 dengan Anak-Anak Rantau

Setelah puas berjalan-jalan dengan teman baru, cerita update kehidupan dengan teman kuliah, major dengan Zahid dan Zahidah, sekarang waktunya bertemu mengunjungi teman lama yang sudah dua tahun tinggal di Malaysia. Rezka adalah salah satu teman sebangku saya saat SMA, dia tau betul awal mula saya memulai cabe&artwork dan dia suka menemani saya saat menggambar dikelas. Menurut saya, ketemu teman lama untuk sekedar flashback waktu jaman dulu itu adalah moment yang sangat berharga ditambah lagi mendengar ceritanya yang terbaru, makin nikmat rasanya. Keputusan untuk bertemu hanya dua hari kayaknya memang kurang, harusnya mungkin saya memang mengalokasikan waktu yang lebih lama di Selangor.

“Be ke Genting yuk, mau gak?” Waw ajakan Rezka diterima dengan senang hati, kebetulan memang saya penasaran ingin ke Genting yang bisa dibilang itu puncaknya Malaysia, bedanya disana ada Premium Outlet. Kami berangkat ke Genting dari KL Sentral menggunakan bis seharga 4,7 ringgit tapi karena dianggap wisatawan, kami langsung disuruh beli tiket kereta gantung seharga 7 ringgit, jadi totalnya kami membayar 11,7 ringgit dikali dua untuk perjalanan pulang dan pergi (Jika ke Genting akan lebih baik langsung membeli tiket pulang pada saat membeli tiket berangkat supaya gak kehabisan). Waktu sampai disana beneran aja, tempatnya nyaman banget buat belanja sodara-sodara, tempatnya sepi, dingin dan buat kalian yang suka belanja brand-model terkenal dengan harga miring, ini bisa menjadi tempat yang harus dikunjungin kalo ke Malaysia. Kebetulan Malaysia akhir-akhir ini sedang sering turun hujan, jadi banyak menikmati pindah dari satu toko ke toko lain selama di Genting Premium Outlet sambil menunggu hujan reda. Selain Premium Outlet di sana juga ada kereta gantung buat menikmati pemandangan alam disekitar Genting. Setelah berkeliling, kami antri kembali ditempat bis untuk menuju KL sentral dan melanjutkan makan siang rangkap makan malam di tempat makan khas thailand didekat Pavillion, namanya Little Rara. Menu masakan thailand dengan harga terjangkau dan rasa yang enak.

udah berasa winter banget bajunya kan 🙂

Selesai makan kami menuju SS2 di Selangor untuk bertemu teman kuliah saya yang baru bekerja di Malaysia, namanya Laurencia Bella. Kebetulan tempat tinggal Rezka dan Bella tidak begitu jauh. Rezka menyarankan kami berdua untuk bertemu di Durian SS2 (193, Jalan SS 2/24, SS 2, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia) sekalian makan durian yang terkenal disana, musang king. Tidak terasa pertemuan kami sudah 4 jam dan masih berasa kurang, lupa waktu karena topik pembicaraan yang hangat “Susahnya Menjadi Orang Dewasa” emang gak akan ada habisnya buat dibahas, berhubung mereka berdua sama-sama pekerja di Malaysia jadi mereka nyambung juga ngobrolnya walaupun baru kali pertama bertemu, Bella yang menceritakan pengalaman bekerjanya di Malaysia dan Rezka juga berbagi pengalamannya yang sudah lebih dahulu kerja disini dan lebih dahulu dipaksa menjadi ‘orang dewasa’ di negara orang. Berakhir dengan Rezka dan Bella yang akhirnya tukeran linkedin.

Kayaknya baru kemarin packing buat berangkat tapi ternyata udah satu minggu mencari udara segarnya, waktu berasa bentar tapi lama kalo lagi liburan itu, bentar kalo pas mau pulangnya, lama pas berasa ngeluarin duitnya haha.

Selain misi perjalanan kali ini untuk high quality time sama orang-orang, saya juga punya misi lain; nyari ide buat project yang akan datang dan menyegarkan kepala untuk persiapan konsep bazaar art yang tremendous dadakan di akhir bulan ini. Saya merasa cukup puas untuk perjalanan kali ini, berhasil menemui beberapa orang dan pulang dengan senyum lebar, mendapatkan banyak cerita selama perjalanan dan bersyukur karena memiliki memori dengan orang-orang baik selama perjalanan diumur saya saat ini. Saya selalu merasa bahwa perjalanan adalah sebuah investasi, bahkan pernyataan saya tersebut sama seperti beberapa orang hebat katakan, membuat saya semakin yakin bahwa perjalanan itu adalah investasi yang mahal, cerita yang tidak bisa dibeli.

Lain kali sepertinya perlu ada misi lagi supaya semangat kerja dan pengalaman saya bertambah, melakukan perjalanan ke negara orang sendirian misalnya? Hehe semoga saja secepatnya, aamiin.